Kelak, di hari kiamat ada kategori manusia yang tak akan mendapatkan rahmat Allah, tapi justru akan menjadi musuh Allah SWT.
Sedangkan dalam keadaan genting dan mendebarkan dikala kiamat, rahmat Allah sangat dibutuhkan oleh segala manusia. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Isra ayat 57:
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهٗۗ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا
“Orang-orang yang mereka mengasyikan itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Ilahi siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka menginginkan rahmat-Nya dan takut akan siksaan-Nya. Sungguh, siksaan Tuhanmu itu sesuatu yang (mesti) ditakuti.”
Lantas siapakah kategori manusia yang phenixsalonsuitesmn.com tak akan mendapat rahmat Allah, tapi justru menjadi musuh-Nya?
Kategori yang Akan Menjadi Musuh Allah
Mengutip Republika, mengacu pada buku \\’Kategori yang menjadi Musuh Allah di Hari Zaman\\’, Rizem Aizid menyebutkan, ada sebagian kriteria seorang Muslim yang dianggap sudah berkhianat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, meskipun dia sudah bersepakat loyal kepada Allah SWT.
Pertama, seorang Muslim yang malas dan meremehkan sholat. Kriteria pertama dari kategori orang-orang yang berkhianat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya ialah mereka (Muslim) yang malas dan meremehkan sholat, sehingga dengan rasa malasnya itu mereka meninggalkan sholat.
Orang-orang yang seperti itu sudah barang tentu tak akan pernah mendapatkan cinta-Nya. “Sebaliknya, di hari kiamat nanti, dia akan berdiri bersama kategori orang-orang yang menjadi musuh Allah SWT,” ujar Rizem.
Kedua, Muslim yang menyenangi pergi ke dukun. Seorang Muslim disebut berkhianat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya ialah sekiranya dia pergi ke dukun. Seperti halnya pergi ke peramal, tukang sihir, atau orang yang dalam mengerjakan profesinya meminta bantuan kecuali kepada Allah SWT.
“Mereka ialah orang-orang yang mengambil info dari setan, yang menyadap pendengaran dan memberikan perkara gaib kepada orang lain,” ungkap Rizem.
Memperdebatkan seputar Allah dan Meremehkan Puasa
Ketiga, Muslim yang memperdebatkan seputar Allah SWT. Musuh Allah SWT dan Rasul-Nya yang berikutnya datang dari orang-orang (Muslim) yang menyenangi memperdebatkan seputar Allah SWT. Lalu siapa orang-orang itu? Mereka ialah spesialis bidah, yang memperdebatkan agama Allah SWT dengan jalan yang tak benar.
Selain spesialis bidah, orang yang menyenangi memperdebatkan syariat atau peraturan Allah SWT juga disebut orang zalim dan untuk mereka, kecuali Allah SWT memusuhinya, Allah SWT mengancamnya dengan ancaman sebagaimana tertuang dalam QS Al Anam ayat 133-134.
وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآتٍ ۖ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ
“Dan Tuhanmu Mahakaya lagi mempunyai rahmat. Apabila Ia menghendaki niscaya Ia membinasakan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (binasa), sebagaimana Ia sudah mewujudkan kamu dari keturunan orang-orang lain. Hakekatnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tak kapabel menolaknya.
Keempat, Muslim yang meremehkan puasa. Meremehkan puasa sampai meninggalkannya dalam hal ini yang dimaksud ialah puasa mesti (Ramadhon), sama saja dengan tak mengerjakan perintah-Nya.Karena, puasa mesti ialah salah satu ibadah mesti yang diatur untuk tiap-tiap Muslim.
“Puasa ini malah menjadi salah satu dari rukun Islam yang lima, sehingga mesti hukumnya seorang muslim menjalankannya,” kata Rizem.
Mengenai keharusan puasa ini, Allah SWT menjelaskan dengan sangat jelas dalam sebagian firman-Nya (QS al-Baqarah ayat 185)
Tidak cuma menjadi musuh Allah SWT, seorang Muslim yang meremehkan sampai meninggalkan puasa mesti juga akan mendapatkan siksaan yang pedih.
